7 Dokter Telah Gugur Lawan Pandemi Corona. Putri dari Salah Satu Dokter Berbagi Kisah Sedihnya
![]() |
Dokter yang meninggal di tengah corona |
Dalam kondisi serba-terbatas, para dokter dan perawat tetap berusaha keras merawat pasien. Mereka bekerja di rumah sakit hari demi hari tanpa istirahat yang cukup. Bahkan sebagian dari mereka nggak bisa terhindar dari penularan virus mematikan tersebut. Hingga akhirnya, beberapa dokter gugur dalam tugas mereka di garda terdepan penyembuhan corona.
Di tengah pandemi corona, tujuh dokter dinyatakan meninggal dunia. Lima di antaranya dinyatakan meninggal karena positif terjangkit virus tersebut
Kabar menyedihkan diunggah oleh akun Instagram Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada Senin (23/3). Dalam unggahan tersebut, ada enam dokter yang dinyatakan meninggal dunia saat bertugas di tengah pandemi corona.
Selain mereka, ada juga dokter Toni D. Silitonga yang meninggal dunia, tetapi kemudian diklarifikasi kalau almarhum meninggal bukan karena virus corona. Beliau mengembuskan napas terakhirnya akibat kelelahan dan serangan jantung setelah mempersiapkan fasilitas kesehatan untuk mencegah virus tersebut.
Hanya selang beberapa jam kemudian, IDI kembali mengumumkan kabar berpulangnya seorang dokter di tengah pandemi corona, beliau adalah Guru Besar Epidemuologi FKM Universitas Indonesia.
Namanya adalah Prof. Dr. dr. Bambang Sutrisna, MHSc. Beliau meninggal dunia pada Senin (23/3) pukul 08.30 WIB di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta. Hingga artikel ini ditulis, seperti yang juga dilansir dari laman Tirto, pihak Humas Universitas Indonesia mengatakan belum menerima hasil laboratorium resmi perihal kematian guru besarnya tersebut.
Putri dokter Bambang kemudian membagikan kisah pilu saat harus menyaksikan ayahnya meninggal sendirian dalam isolasi. Ia memohon bagi siapa pun yang masih mengabaikan imbauan #dirumahaja, untuk segera sadar diri bahwa pandemi ini nyata adanya
Putri almarhum dokter Bambang Sutrisna menceritakan kematian ayahnya dengan pilu. Meskipun dilarang oleh keluarga, dokter senior ini tetap memeriksa pasien yang sudah datang dari jauh. Ternyata pasien tersebut diduga positif virus corona, bahkan hasil rontgen paru-parunya sudah putih semua. Setelah menanganinya, dokter Bambang mengalami demam dan sesak napas sampai harus dilarikan ke rumah sakit.
![]() |
Ini bukan di Wuhan atau Italia, tragedi ini telah sampai di Indonesia |
Kondisi dokter Bambang semakin memburuk di sana. Saat sesak napas, dia harus menghubungi anak dan menantunya melalui telepon, sebab keluarganya tidak diizinkan masuk. Lantas anaknya menghubungi pihak rumah sakit untuk memberitahu kondisi sang ayah. Namun, kondisi dokter Bambang terus menurun sampai akhirnya dia mengembuskan napas terakhir dalam kesendirian di ruang isolasi.
Tak ingin menakut-nakuti, tapi dia ingin semua orang di Indonesia tahu bahwa pandemi ini ada di depan mata. Bagi para tenaga medis, tragedi yang kemarin kita lihat di Wuhan atau Italia lewat berita, telah berlangsung di rumah sakit-rumah sakit Indonesia. Putri sang dokter yang juga seorang dokter, bercerita dirinya sampai 2 minggu tidak pulang ke rumah karena takut menulari orang-orang di rumahnya.
Para dokter, perawat, staf, sampai petugas keamanan dan kebersihan rumah sakit, kini harus berjibaku menghadapi risiko penularan tinggi tanpa perlindungan yang memadai. Belum lagi jumlah pasien terinfeksi diperkirakan akan terus naik.
Sungguh pahit kondisi yang harus dialami para petugas medis saat menangani virus corona. Apalagi, peralatan kesehatan semakin menipis tiap harinya. Mari kita ulurkan tangan untuk mendukung mereka yang sedang berjuang di luar sana. Kamu bisa turut membantu para tenaga medis dengan berdonasi di KitaBisa.com. Sedikit bagi kita, bisa sangat berarti untuk orang lain. Yuk sisihkan sedikit rezeki demi mereka!
Posting Komentar untuk "7 Dokter Telah Gugur Lawan Pandemi Corona. Putri dari Salah Satu Dokter Berbagi Kisah Sedihnya"